Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Husband, Wife, and Golden Retriever

Blog EntryFeb 20, '12 11:49 AM
for everyone
Namanya juga dive trip, kerjaan apalagi kalau bukan nyelem, makan, tidur, dan nyelem lagi. 

Sehari kita diving 3 kali diselingi interval time yang dihabiskan dengan mengisi perut dan istirahat. Dan sepulang dari Raja Ampat berat badan pun naik 2 kg. Dibandingkan dengan dive trip tahun lalu ke Bunaken, diving di Raja Ampat terasa lebih santai karena tiap interval time kita kembali ke resort untuk istirahat dan mengisi perut. Sedangkan dulu di Bunaken stay terus di boat seharian. Jadi waktu sore pulang ke resort tuh rasanya udah capek banget.

Selama di Raja Ampat hidup kita jadi teratur banget. Berikut run down kegiatan sehari2:

06.00 Bangun tidur
07.00 Sarapan
08.00 Dive pertama
09.30 Kembali ke resort untuk interval time
11.00 Dive ke-2
13.00 Makan siang di resort
15.00 Dive ke-3
17.00 Leyeh-leyeh di kamar, atau nongkrong di dermaga
19.00 Makan malam
21.00 Tidur

Bener-bener eat, sleep and dive. Hehe..

Untuk mencapai dive site digunakan boat yang berkapasitas 6 diver, 2 diveguide, dan 2 boat crew. Tak butuh waktu lama untuk mencapai tempat tujuan karena kami hanya diving di radius 10 km dari resor. Itu pun tidak semua dive site yang dikunjungi karena kondisi arus yang tidak mendukung (kadang arusnya terlalu kuat sehingga berbahaya). Dan waktu seminggu sungguh tidak cukup untuk mencoba semua dive site yang ada di sekitar pulau Kri, apalagi ke tempat yang lebih jauh. Menurut saya, 2 minggu waktu yang pas jika mau menikmati diving secara maksimal disini. Tentunya jika mau menginap dan diving lebih lama harus didukung stamina yang oke dan dompet yang lebih tebal :P


Boat diving

Satu hal yang menurut saya istimewa di Raja Ampat, disini banyak HIU. Adanya hiu merupakan indikasi kondisi kehidupan laut masih sehat dan alami. Ini pertama kalinya saya diving ketemu hiu. Awalnya takut-takut. Tiap kali ketemu hiu saya deg-degan. Tapi karena keseringan jadi biasa aja. Apalagi setelah dapat pencerahan fakta tentang hiu dari diver lain. Saya baru tahu kalo dari sekian banyak jenis hiu cuma 3 jenis yang harus diwaspadai, yaitu white shark, bullshark, dan tiger shark. Ketiga spesies ini nggak ada ditemukan di Raja Ampat. Kebanyakan disini adalah hiu karang, seperti jenis black tip dan white tip. Juga jenis wobbegong atau hiu keset dan bamboo shark yang suka berjalan di dasar laut menggunakan siripnya.

Saking banyaknya hiu, dari dermaga kita bisa lihat hiu black tip berseliweran. Terutama di pagi hari sebelum matahari terik. Karyawan resort biasa memberi makan hiu-hiu ini tiap pagi dengan sisa makanan seperti kepala ikan. Begitu makanan dilempar ke air, belasan hiu berebutan dengan agresif. Hubby cukup berani untuk snorkeling dan merekam adegan feeding frenzy ini dengan video kamera.

Hiu berseliweran terlihat dari dermaga

Sehari sebelum check out saya dan hubby sudah libur diving bersamaan dengan liburnya karyawan resor di hari Sabtu. Sebelum boleh terbang untuk balik ke Bandung, kita memang diharuskan punya surface time minimal 24 jam supaya tidak bermasalah dengan perubahan tekanan udara. Sebenarnya pagi masih bisa diving di sekitaran dermaga seperti diver2 lainnya (tidak ada boat karena karyawan libur). Tapi berhubung saya sudah merasa tidak fit dan datang bulan, kita berdua menghabiskan waktu dengan cara lain, yaitu KAYAKING. 

Resor menyediakan 4 perahu kayak yang bebas dipakai kapanpun. Mumpung laut lagi tenang, saya dan hubby nekad aja berperahu kayak walaupun nggak tau cara pakainya. Hihi. Awal naik ke perahu rasanya oleng seperti mau terbalik. Tapi begitu perahu meluncur rasanya asik banget. Kita pun mendayung perahu kayak dengan santai menuju pulau pasir yang tidak jauh dari resor. Jaraknya sekitar 2-3 km. 

Berperahu kayak ke pulau pasir

Sampai di pulau pasir yang mungil ini kita puasin foto-foto dan menikmati pemandangan. Air lautnya jerniiihh banget. Dasar pasirnya terlihat jelas. Pengen nongkrong di sini lebih lama, tapi sayang awan hujan sudah mendekat. Oya, selama menginap di Raja Ampat kita sering mengalami hujan yang hanya selewat saja. Awan pembawa hujan terlihat jelas pergerakannya. Mulanya kelihatan jauh, eh tau tau udah di pulau sebelah, dan mampir menyirami pulau Kri selama 15 menit. Lalu cuaca kembali terang-benderang. Setelah mendayung sekitar 20 menit kita sampai di resor tepat waktu hujan mulai turun. 

Malam di resor artinya saat untuk makan malam bersama semua tamu. Kita makan di maja panjang sambil ngobrol ngalor ngidul. Seminggu di Raja Ampat bisa jadi ajang untuk praktek bahasa inggris karena semua tamu kecuali saya dan hubby adalah orang asing semua. Selain tamu, pemilik resor juga kadang-kadang bergabung dan ikutan ngobrol. Orangnya ramah sekali. Hari pertama kita nyampe di sana sudah disamperin sama dia dan ngajak ngobrol dengan bahasa Indonesia yang fasih. 

Hebatnya owner papua diving ini yaitu Max Ammer sangat konsern dengan konservasi alam dan aktif membantu peneliti dalam dan luar negeri yang melakukan penelitian di wilayah Raja Ampat. Bahkan dia membangun pusat penelitian dan konservasi yang bernama Raja Ampat Research and Conservation Center (RARCC) yang sudah bekerja sama dengan WWF, LSM, dan banyak peneliti lokal dan internasional.

Lucunya, begitu saya bilang kalo saya ini adalah chemist, dia langsung berbinar-binar dan semangat menceritakan pengalaman dia dalam membantu penelitian banyak scientist di wilayahnya. Bahkan bule Belanda ini dengan senang hati menerbangkan pesawatnya untuk membantu survey dan menyiapkan keperluan logistik penelitian. Hasil penelitiannya nggak main-main. Dan saya dapat bocoran kalau ada hasilnya yang mau dipublish di majalah National Geographic. Woww.. pengen deh suatu saat nanti survey dan research di Raja Ampat :D




Add a Comment